SPORTSJABAR-Pada bulan Februari tahun 2025, di kawasan Kota Wajit, Cililin, Kabupaten Bandung Barat, berdiri sebuah sekolah sepak bola yang meski masih seumur jagung, namun mulai mencuri perhatian. Namanya SSB P3SB Yudi Guntara. Masih terbilang “bayi”, tetapi geliat dan kualitas pembinaannya sudah terasa nyata, khususnya dalam membina talenta-talenta muda sepak bola di wilayah Cililin dan umumnya Kabupaten Bandung Barat.
Dalam waktu yang relatif singkat, SSB P3SB Yudi Guntara menunjukkan bahwa usia bukanlah ukuran utama dalam membangun kualitas. Keberhasilan awal ini tidak lepas dari kombinasi tiga hal penting: bakat alami anak-anak, semangat berlatih yang tinggi, dan kualitas pelatih yang mumpuni.
Faktor terakhir inilah yang menjadi pembeda utama. SSB P3SB Yudi Guntara dibina langsung oleh nama-nama besar sepak bola Jawa Barat, khususnya legenda Persib Bandung dan Persikab Di antaranya Aceng Juanda, Udin Rafiudin, serta Cepi Bayu Adam, yang didukung pula oleh pelatih-pelatih muda berlisensi dan berkompeten. Di balik layar, figur Yudi Guntara, legenda Persib sekaligus Direktur Teknik, menjadi penggerak utama arah pembinaan.
Dengan komposisi pelatih seperti itu, SSB P3SB Yudi Guntara tak sekadar menjadi tempat latihan, melainkan ruang pembentukan karakter, teknik, dan mental sepak bola sejak usia dini. Nama-nama besar yang terlibat menjadi jaminan mutu sekaligus sumber inspirasi bagi para pemain muda.
Momentum penting pun hadir bertepatan dengan hari jadi pertama SSB P3SB Yudi Guntara, yang sekaligus dirangkai dengan Milad Yayasan P3SB ke-53 tahun. Dalam rangkaian tersebut, digelar coaching clinic sepak bola dengan menghadirkan legenda Persib sekaligus Direktur Teknik Persib, yakni Djajang Nurjaman. Kegiatan berlangsung di lapangan SSB P3SB yang berada di lingkungan Pondok Pesantren P3SB.
Sejak pagi, suasana lapangan tampak hidup. Seluruh siswa SSB P3SB hadir dengan antusias tinggi. Mulai dari kelompok usia U-7 hingga U-15, anak-anak mengikuti setiap materi dengan semangat, menyerap ilmu langsung dari sosok yang selama ini hanya mereka kenal lewat layar televisi dan cerita sepak bola nasional.
Kehadiran Djajang Nurjaman bukan hanya menghadirkan materi teknis, tetapi juga menyuntikkan spirit baru bagi anak-anak, orang tua, dan masyarakat sekitar. Tribun lapangan dipenuhi orang tua dan warga yang ingin menyaksikan langsung proses pembinaan talenta sepak bola di lingkungannya.
Menanggapi kegiatan tersebut, Ketua Yayasan P3SB, Kiai Ari Gumanti, memberikan pandangan mendalam tentang makna coaching clinic ini, bukan hanya sebagai agenda olahraga, tetapi juga sebagai bagian dari pendidikan karakter dan masa depan generasi muda.
Kiai Ari Gumanti, menjelaskan bahwa kegiatan ini sengaja diselaraskan dengan agenda milad P3SB serta nilai-nilai pembinaan agar anak-anak tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga mental dan akhlaknya.
“Pesantren itu bukan hanya soal kitab dan santri saja. Pesantren adalah bengkel kehidupan. Di sini anak-anak dibina ilmunya, akhlaknya, dan bakatnya,” ujar Kiai Ari.
Menurutnya, tidak semua anak memiliki latar belakang santri sejak awal. Namun melalui pendekatan olahraga, pesantren bisa menjadi pintu masuk bagi anak-anak yang memiliki minat dan potensi, khususnya di bidang olahraga masyarakat yang kini semakin populer.
“Ini salah satu cara kami mengajak anak-anak di luar yang ingin masuk pondok, tapi punya bakat. Olahraga jadi jembatan. Mereka dapat ilmu agama, akhlaknya diperbaiki, dan bakatnya tersalurkan,” tambahnya.
Untuk mendukung program tersebut, P3SB juga menggandeng pelatih-pelatih berpengalaman dan berlisensi, termasuk sosok-sosok yang sudah malang melintang di dunia olahraga dan pembinaan atlet.
“Pelatih kami alhamdulillah punya pengalaman panjang, ada yang berlatar belakang atlet, ada juga yang pernah aktif di institusi. Jadi pembinaan bukan asal-asalan,” ungkapnya.
Dengan konsep ini, berharap bisa menjadi ruang aman dan positif bagi generasi muda, terutama mereka yang selama ini belum tersentuh pembinaan terarah.
Menutup pernyataannya, Kiai Ari Gumanti menyampaikan pesan inspiratif bagi para siswa dan generasi muda di Bandung Barat.
“Jangan takut bermimpi. Pesantren bukan penghalang cita-cita, justru pondasi. Di sini kita siapkan akhlaknya, ilmunya, dan masa depannya,” tuturnya.
Ia berharap ke depan SSB P3SB bisa terus berkembang dan memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.
“Mudah-mudahan ini jadi ikhtiar kecil yang membawa kebaikan besar,” harapnya.
Sementara itu, Direktur Teknik SSB P3SB, Yudi Guntara, mengakui bahwa secara fasilitas, lapangan latihan di wilayah Cililin memang masih terbatas. Namun, keterbatasan itu tidak menyurutkan semangat pembinaan.
“Alhamdulillah ya, walaupun secara sarana memang masih minim, tapi tetap kita manfaatkan sebaik mungkin. Yang penting anak-anak mau latihan dan dibina,” ujar Yudi.
Menurutnya, kehadiran para legenda Persib seperti Aceng Juanda serta Rafiudin menjadi nilai lebih yang sangat berharga bagi anak-anak.
“Mereka punya pengalaman panjang sebagai pemain dan pelatih. Ilmu mereka itu mahal, dan mudah-mudahan bisa menular ke anak-anak di sini,” katanya.
Yudi berharap, dari wilayah Cililin dan sekitarnya akan lahir pemain-pemain potensial yang bisa menjadi kebanggaan daerah, bahkan mengisi skuad Persib di masa depan.
“Harapan saya sih, ke depan Persib tidak perlu jauh-jauh ambil pemain lokal dari luar. Mudah-mudahan dari sini ada yang bisa menggantikan pemain-pemain seperti Dewangga,” ucapnya sambil tersenyum.
Meski belum bisa menunjuk satu nama secara spesifik, Yudi optimistis potensi itu ada.
“Kalau pembinaannya betul, saya yakin pasti ada satu-dua pemain yang menonjol. Di turnamen-turnamen juga sudah mulai kelihatan,” tambahnya.
Butuh Dukungan Bersama

Soal kendala, Yudi menegaskan bahwa yang paling dibutuhkan saat ini adalah dukungan dari berbagai pihak.
“Sebetulnya tidak ada kendala besar, hanya fasilitas saja yang memang masih terbatas. Mudah-mudahan ada donatur atau pihak-pihak yang peduli terhadap sekolah sepak bola ini,” harapnya.
Ia menutup dengan keyakinan bahwa pembinaan sepak bola tidak harus selalu dimulai dari lapangan mewah.
“Yang penting pembinaan jalan, pelatih ada, dan anak-anak punya mimpi. Dari lapangan sederhana pun, pemain besar bisa lahir,” tandas Yudi.(RESTU)
