
SPORTSJABAR-Ratusan santri dan pimpinan pondok pesantren se-Jawa Barat hadir dalam kegiatan bertajuk Coklat Kita Silatusantren Tadabbur Alam yang digelar di area perkemahan Malabar, Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, pada 15–16 Januari 2026. Mereka menyatu dalam satu ruang silaturahmi, edukasi, dan refleksi alam.
Kegiatan yang melibatkan 131 pondok pesantren dengan total 262 santri ditambah 15 perwakilan wilayah serta pimpinan pondok pesantren, merupakan puncak rangkaian program Coklat Kita Silatusantren yang telah berjalan hampir satu tahun, dengan fokus utama pada kebersihan lingkungan dan cinta alam.
Sejumlah rangkaian kegiatan mewarnai acara ini,mulai dari pemilihan dan penyembelihan hewan kurban, pengelolaan sampah, hingga kegiatan keagamaan yang diisi dengan salat berjamaah, tawassul, sholawat.Sholawatan bersama grup AKAF AI Khodijah And Friend menciptakan suasana religius dan kebersamaan di tengah alam terbuka Gunung Puntang.
Acara kemudian berlanjut ke talkshow bertema Taddabur Alam, yang menghadirkan sejumlah narasumber terkemuka diantaranya DR Zastrouw, Budi Dalton dan King Salman.
Talk show tersebut menegaskan pentingnya peran santri dalam menjaga lingkungan, mulai dari pemahaman tentang pengelolaan sampah, kebersihan pesantren, hingga kepedulian ekologis sebagai bekal kehidupan di masyarakat.
Melalui kegiatan ini, para pengasuh dan santri menilai program Silaturahmi Santren Tadabbur Alam menjadi ruang edukasi, refleksi, dan silaturahmi lintas pesantren, sekaligus momentum memperkuat kesadaran bahwa kebersihan lingkungan merupakan bagian dari nilai keislaman dan tanggung jawab bersama.
Yudi Wate Angin,selaku perwakilan dari Coklat Kita, menjelaskan Tadabbur Alam ini memberikan pencerahan bagaimana menjaga lingkungan agar bersih bebas dari sampah
“Tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan edukasi kepada santri bahwa kebersihan lingkungan itu sangat penting, khususnya di pesantren. Mulai dari mengenal jenis sampah, cara memilah, mengelola, hingga memanfaatkannya. Ini menjadi bekal kehidupan santri, baik di pondok maupun di masyarakat,” tutur Yudi.
Gunung Puntang dipilih sebagai lokasi kegiatan karena mengusung tema Tadabbur Alam, yakni mensyukuri nikmat Allah SWT secara kolektif melalui perenungan di alam terbuka.
“Tema besar acara ini adalah tadabbur alam. Kami ingin mensyukuri nikmat Allah secara kolektif di alam terbuka, sekaligus menanamkan cinta lingkungan. Harapannya, momen ini menjadi kenangan dan pengalaman berharga bagi para santri,”jelasnya.

Ia menambahkan momentum ini menjadi sangat berkesan karena mempertemukan ratusan pesantren dari Jawa Barat dalam satu kegiatan silaturahmi.
“Insya Allah, Silatusantren akan kembali digelar pada tahun 2026 dengan tema Bukti, Bakti, Cinta: Pondokku, Lingkunganku, Kebanggaanku,” ungkap Yudi.
Sementara itu, pendiri sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in, Bojong, Purwakarta, KH. Haji Agus Aliyudin, menilai kegiatan ini sangat memberikan manfaat nyata bagi pesantren.
“Manfaat paling utama bagi kami adalah bertambahnya literasi. Terus terang, di pesantren belum ada kurikulum khusus tentang pengelolaan sampah. Kegiatan ini menjadi catatan penting dan sangat membantu,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa kehadirannya dalam kegiatan ini merupakan undangan khusus karena pesantrennya termasuk perintis kemitraan pesantren bersama komunitas di Purwakarta sejak 2016.
Dari Purwakarta sendiri, terdapat lima pesantren yang diundang secara khusus dan diwakili langsung oleh para pimpinan pesantren.
Menurutnya, rangkaian kegiatan kebersihan lingkungan sebelumnya juga telah dilaksanakan di pesantren-pesantren, melibatkan santri dan masyarakat sekitar.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap terbentuk pola pikir baru santri tentang kebersihan dan kepedulian lingkungan. Pesantren bukan hanya tempat pendidikan agama, tetapi juga pusat pembelajaran nilai-nilai kehidupan,” jelasnya.

Ia menambahkan, kegiatan Tadabbur Alam menjadi sangat relevan di tengah kondisi lingkungan yang semakin memprihatinkan.
“Kami ingin menanamkan cinta terhadap alam sebagai sumber kehidupan, sesuai dengan prinsip rahmatan lil ‘alamin,” katanya.
Antusiasme juga datang dari para santri. Perwakilan santri dari Pondok Pesantren Al-Bukhori, Kabupaten Majalengka, Amrin Hakim menyampaikan apresiasinya terhadap program Coklat Kita.
“Sebagai santri, kami sangat mengapresiasi program ini. Selain belajar ilmu agama, kami juga mendapatkan wawasan tentang cinta lingkungan melalui program Coklat Kita Silatusantren,” ujarnya.
Ia menuturkan bahwa para santri dibekali ilmu pengelolaan sampah, baik organik maupun anorganik, yang dinilai sangat bermanfaat sebagai bekal setelah lulus dari pesantren.
“Santri sangat semangat. Ilmu ini penting ketika kami nanti terjun ke masyarakat, sehingga tidak hanya membawa ilmu agama, tetapi juga kepedulian terhadap lingkungan,” jelas Amrin.
Amrin sendiri telah mondok selama 10 tahun di Pesantren Al-Bukhori dan menjadi salah satu perwakilan dari tujuh pesantren yang terlibat dalam program ini.
“Program ini sangat berdampak positif. Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut dan memberikan manfaat nyata bagi pesantren dan lingkungan sekitar,” pungkasnya.
Melalui Coklat Kita Silatusantren Tadabbur Alam, pesantren dan santri tidak hanya dipertemukan dalam silaturahmi, tetapi juga diperkuat perannya sebagai agen perubahan dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.(BK/RESTU)
