Campus League Badminton Regional Bandung Adopsi Aturan BWF

Posted by
Bagikan kiriman ini

SPORTSJABAR-Campus League Badminton Regional Bandung digelar di GOR Bandung, Jawa Barat, mulai Selasa (15/9) sampai Jumat (18/9). Turnamen bergengsi ini melibatkan student-athlete dari 23 kampus di Bandung, Jakarta, Depok, Bogor, Bekasi, hingga Cimahi. Mereka adu kemampuan dan strategi di arena pada kategori indvidu dan beregu.

Kategori individu yang dihelat 15 sampai 16 September, Campus League Badminton Regional Bandung menyajikan enam nomor pertandingan, yakni tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, ganda campuran, dan 3v3.Sedangkan kategori beregu berlangsung mulai 17 hingga 18 September.

Head of Competition Campus League, Dave Leopold, bangga sekaligus bersyukur karena Campus League Badminton Regional Bandung disambut hangat masyarakat Kota Kembang dan sekitarnya.

Ada banyak sorotan dalam turnamen kali ini. Salah satunya nomor 3v3 yang diadaptasi dari format latihan para atlet profesional. Tujuannya, mendorong para student-athlete yang belum percaya diri atas kemampuan mereka namun ingin bertanding. Kategori 3v3 bisa mewadahi semangat mereka.

“Jadi secara jam terbang dan kerja sama tim, 3 versus 3 tak kalah seru. Ke depan Campus League bakal tetap ada nomor ini atau enggak? Pasti ada. Selama 30 tahun ke depan, format kompetisi badminton Campus League akan seperti ini (tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, ganda campuran, 3v3),” Dave menjelaskan.

Pada musim perdana ini, Campus League juga mengadopsi sistem skor terbaru yang diperkenalkan Badminton World Federation (BWF). Untuk kategori perseorangan, pertandingan dimainkan dengan format best of three games hingga 15 poin (15×3). Sementara kategori beregu menggunakan format skor kumulatif 55 poin sesuai regulasi terbaru BWF.

Dave melanjutkan, Campus League telah mendapat persetujuan dari pihak PBSI untuk menggunakan poin 15 sebagai ajang sosialisasi. “Secara pertandingan lebih cepat, seru, dan menarik. Kami telah bertanya ke sejumlah student-athlete. Mereka mengaku lebih suka poin 15 sebagai pemanasan untuk menjadi atlet profesional,” imbuhnya.

Pada partai 3v3, tim STKIP Pasundan Cimahi yang dimotori Agnia Sri Rahayu, Rangga Arda Rheta, dan Deandra Ikhsan Gunawan meladeni Alya Zafira, Muhammad Irsya Mubarok, serta Ardha Tanu Widarma (Universitas Gunadarma). Trio Agnia-Rangga-Deandra menyudahi perlawanan tim Gunadarma dengan skor 15-10, 15-5.

Rangga membeberkan, tantangan terbesar di 3v3 adalah komunikasi. Beda kepala, beda pemikiran. Karenanya, harus ada salah satu personel yang siap memimpin tim saat pertandingan bergulir.

Agnia membenarkan seraya menyebut babak pertama lebih susah dijalani. “Di babak awal, kami membaca peta kekuatan lawan. Kami mengincar yang lemah, pastinya. Sementara kami bertiga harus lebih pintar menutupi kelemahan satu sama lain,” ucapnya.

“Kami melihat Tim Gunadarma kuat. Cuma ada teknik permainan kami yang mereka mungkin kurang suka. Misalnya, main satu-satu atau individual,” ulas Rangga. Senada dengan Rangga, Deandra mengapresiasi performa Alya-Muhammad-Ardha yang memiliki tempo permainan cepat, kuat, sekaligus solid.

Beralih ke tunggal putri, Maria Veronica Ngadien Prawesti (Universitas Padjadjaran) menundukkan utusan Universitas Gunadarma, Alya Zafira, lewat dua set langsung, 15-9 dan 15-12. Maria yang berstatus unggulan dua mengakui, tantangan terbesar ada di babak kedua lantaran Alya menempel ketat. Alya berkali-kali menyamakan kedudukan dari 2-2, 4-4, hingga 6-6. Berkali-kali pula ia membayangi Maria dengan selisih skor tipis 9-10, 10-11, lalu 12-13.

Dalam sesi jumpa pers, Maria membenarkan, babak kedua lebih menegangkan. “Babak kedua lebih struggling karena serangan saya banyak mati sendiri. Tegang juga sehingga kejar-kejaran skor dengan Alya Zafira terasa lebih ketat,” akunya.

Maria pun mengapresiasi penyelenggaraan Campus League. “Bagus, Campus League Badminton menjadi wadah bagi student-athlete di berbagai kota di Indonesia untuk menunjukkan bakat mereka,” cetusnya.

Sementara pada nomor tunggal putra, perjalanan Nopriansyah Adi Gunawan (Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Bekasi) cukup mulus. Pada babak semifinal, ia berhasil mengalahkan unggulan empat Triyugo Frediqke Sunandar Hidayat (Universitas Trisakti, Jakarta) 15-12, 15-9. Melangkah ke partai final, performa Nopriansyah pun masih stabil dengan melibas unggulan tiga Muhammad Bagus Suyarto (Universitas Budi Luhur Jakarta), skor 15-12, 16-14.

Pada partai ganda putra, Gilang Pramunantio/Miftah Ilman Khatami (Universitas Trisakti Jakarta) dipaksa mengakui kedigdayaan Fajar Putra Setiawan/Ridho Ma’sum Firdaus (Universitas Komputer Indonesia) dengan poin akhir 10-15 dan 15-17.

Menilik pertarungan ganda putri, Alya Ardelia/Shofi Aprilia Argyanti (Universitas Budi Luhur Jakarta) menjegal langkah Shafa Alya Ramadhani/Aura Zalfa Syafiya menuju podium tertinggi. Babak final pun berakhir dengan skor 15-13 dan 15-10 untuk kemenangan Alya-Shofi.

Beralih ke ganda campuran, Muhammad Halim As Sidiq/Citra Murdiningrum Surono dari Universitas Negeri Jakarta menundukkan wakil Universitas Budi Luhur Jakarta, Khaddhaffy Allrhenandhy/Alya Ardelia dua set langsung, 15-13, 15-10.

Usai kategori individu yang bergulir 15 dan 16 September rampung, Campus League Badminton Regional Bandung berlanjut ke kategori beregu pada 17 dan 18 September. Dave Leopold menyinggung penerapan sistem skor terbaru dari BWF, yakni 55 poin kumulatif dalam kompetisi beregu, diprediksi akan memberi keseruan dan peta persaingan sengit antar tim yang berlaga.

“Ini lebih menarik karena menang di set pertama dan kedua, tidak menjamin sebuah tim bisa unggul sampai akhir. Itu tergantung strategi pelatih dalam menempatkan pemain penentu. Kami juga ingin para pemain, perangkat pertandingan, dan yang terlibat turnamen ini lebih familier. Makin terbiasa tentu akan makin baik,” ujarnya.

Di ajang Campus League Badminton Regional Bandung, Ibu Kota Jawa Barat diwakili student-athlete dari ITB, Politeknik Negeri Bandung, STIE STAN Indonesia Mandiri, Telkom University, Universitas Jenderal Achmad Yani, Universitas Komputer Indonesia, Universitas Kristen Maranatha, Universitas Padjadjaran, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Widyatama, dan Universitas Katolik Parahyangan.

Jakarta diwakili Budi Luhur University, Institut Kesehatan Hermina, UNJ, Universitas Bhayangkara, Universitas Bina Nusantara, Universitas Esa Unggul, Universitas Pertamina, dan Universitas Trisakti. Tak ketinggalan, para student-athlete dari Universitas Gunadarma Depok, Universitas Ibn Khaldun Bogor, President University Bekasi, dan STKIP Pasundan Cimahi turut menyuguhkan performa terbaik mereka. (*)

Leave a Reply