DCDC Pengadilan Musik: Ungkap Perjalanan Panjang Pas Band Selama Tiga Dekade

Posted by
Bagikan kiriman ini

SPORTSJABAR-DCDC Pengadilan Musik edisi 52 menghadirkan terdakwa yang terbilang
istimewa yaitu Pas Band ke persidangan di Kantin Nasion Rumah The Panasdalam,Bandung, Kamis 27 Oktober 2022.

Istimewa karena grup band rock alternatif asal Bandung yang digawangi Yuki
(vocal),Trisno (bass), Bengbeng (gitar), serta Richard dan Sandy (drum) merupakan
salah satu pionir band indie di tanah air dan sudah berkarya lebih dari tiga dekade.

Mereka diadili oleh dua Jaksa Penuntut, Budi Dalton dan Pidi Baiq. Pengadilan
dipimpin oleh seorang Hakim yaitu Man (Jasad) dan jalannya persidangan diatur oleh
Rully Cikapundung sebagai Panitera.

Sementara di kursi pembela duduk bassis grup band Pure Saturday, Ade Muir bersama
Yoga PHB.

Budi Dalton dan Pidi Baiq selaku jaksa penuntut berupaya mengorek sepak terjang
band yang berdiri pada April 1991 ini selama 30 tahun lebih.

Richard mengaku Pas Band lahir ketika tren musik metal sedang melanda dunia,
termasuk di Indonesia.

Perjalanan karir bermusik Pas Band berawal ketika mereka merekam sebuah demo
album berjudul “4 Through The Sap” pada tahun 1993 yang dirilis secara mandiri atau
independen.

“Album pertama ini kami rilis sendiri karena mayor label menolak demo yang kami
tawarkan,” ujar Richard.

Richard menyebut peran radio GMR Bandung dan almarhum Samuel Marudut sangat
besar untuk memperkenalkan Pas Band serta musik yang mereka usung ke hadapan
publik.

Namun dia mengaku merasa risi ketika Pas Band disebut sebagai pionir band indie di
Indonesia.

“Sebetulnya Iwan Fals sudah melakukan hal seperti ini lebih dulu, merekam dan
memasarkan karyanya sendiri ke masyarakat,” jelas Richard.

Melalui album tersebut popularitas Pas Band kian terdengar luas, sehingga pada
akhirnya album ini dibeli dan dipasarkan kembali secara nasional oleh salah satu label
rekaman ternama kala itu dan dapat terjual ribuan copy dalam waktu singkat.

Kemudian Pas Band melanjutkan kiprahnya dengan merilis album “In (No) Sensation”
pada tahun 1995 dengan singlenya yang berjudul “Impresi”. Bisa dibilang album ini
merupakan titik awal Pas Band bernaung bersama mayor label kenamaan Aquarius
Musikindo.

Seiring berjalannya waktu, tepatnya pada tahun 1998 dengan alasan tertentu Richard
memutuskan hengkang dari Pas Band, sehingga secara otomatis mengharuskan mereka untuk memutuskan vakum sementara waktu.

Keluarnya Richard mengundang rasa penasaran Budi Dalton yang ingin tahu alasan dia cabut  dari Pas Band.

Namun Richard enggan menjelaskan secara rinci mengapa dia meninggalkan ketiga
temannya.” Enggak tahu ya, pokoknya saat itu saya lagi gila. Jadi keluar begitu
saja,”ungkapnya sambil tertawa.

Setelah vakum selama dua tahun, tepatnya pada tahun 2001 Sandy Andarusman
secara resmi ditetapkan mengisi kekosongan drummer Pas Band.

Sebelum gabung dengan Pas Band Sandy adalah penabuh drum band rock asal
Bandung juga, yakni U’Camp.

Sandy mengaku menjelang pentas perdana bersama Pas Band dirinya selama dua
minggu harus mempelajari sebanyak 20 lagu Pas Band.

“Saya masih ingat pertama kali manggung bareng Pas Band di Tangerang,” ujar Sandy.

Bergabungnya Sandy sempat mengundang pro kontra di kalangan Passer, sebutan
untuk penggemar Pas Band.

“Passer sempat terbelah, saat manggung ada yang bawa poster dukungan untuk Sandy
dan Richard,” kata Bengbeng

13 tahun berjalan dengan Sandy sebagai drummer, secara mengejutkan Richard
kembali tergabung bersama Pas Band pada tahun 2014, sekaligus mengubah format
band menjadi memiliki dua orang drummer.

Pas Band dikenal konsisten menghasilkan karya musik berkualitas dalam aransemen
dan lirik. Tema sosial adalah garis tegas yang dijalani Yuki dan kawan-kawan dalam
berkarya.

Menjawab pertanyaan Budi Dalton terkait lirik yang ditulisnya, Yuki menjelaskan tema
tersebut relevan dengan keseharian.

” Ketika harga-harga melonjak akibat krisis moneter pada tahun 1998, kondisi negara
berantakan.Hal ini tepat untuk lirik album keempat,” terang Yuki.

Pas Band merilis album keempat bertajuk Psycho I.D pada 1998, disusul “Ketika”
(2001), “Pas 2.0”, “Stairway To Seventh” (2004), “Romantic Lies And Bleeding”
(2008), serta beberapa single yang menjadi hits secara nasional seperti “Kesepian
Kita” hingga “Jengah”.

Selain itu, Pas Band juga menorehkan catatan menarik kala menggaet beberapa musisi
sebagai kolaboratornya, dari mulai Reza Artamevia, Bunga Citra Lestari, hingga
Tere.Album “Ketika” dengan hitsnya berjudul “Kesepian Kita” dijadikan soundtrack resmi film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) yang meledak pada 2001.

Setelah sukses di era 90an akhir hingga awal tahun 2000an Pas Band mengalami
puasa yang cukup lama dalam menghasilkan karya. Dibutuhkan waktu sekitar 14 tahun
sampai akhirnya Pas Band mengeluarkan sebuah mini album melalui single berjudul
“Sesungguhnya” yang telah dirilis terlebih dahulu.

Persidangan kali ini juga menghadirkan saksi meringankan, yaitu Arin dari radio GMR Bandung yang menjadi salah satu saksi mata jatuh bangunnya perjalanan Pas Band selama tiga dekade di blantika musik Indonesia.

“Pas Band adalah satu-satunya band Indonesia yang menarik perhatian musisi beken
dari luar negeri. Bahkan vokalis Foo Fighters, Dave Grohl sempat melontarkan pujian
untuk Pas Band,” ujar Arin yang menilai personil Pas Band punya kecerdasan di atas
rata-rata.

Di penghujung persidangan Pas Band naik panggung membawakan sejumlah hitsnya ,
diantaranya Kesepian Kita dan Jengah. Tak pelak jika aksi Yuki dan kawan-kawan
disambut meriah para Passer yang memadati Kantin Nasion Rumah The Panasdalam.

Man Jasad selaku hakim menilai Pas Band telah membuktikan konsistensinya dalam
menciptakan karya yang berkualitas selama tiga dekade.

” Semoga ke depannya Pas Band terus berkarya.Dengan demikian persidangan
dinyatakan selesai,” tutup Man Jasad sambil ketuk palu.

Produser DCDC Pengadilan Musik, Addy Gembel mengakui suatu kehormatan bagi DCDC bisa memanggil Pas Band untuk diadili sebagai terdakwa di Pengadilan Musik.

” Kita tahu Pas band adalah legenda hidup yang banyak memberikan inspirasi buat perkembangan musik, tidak hanya di Bandung tapi juga di Indonesia dengan sepak terjang dan karya yang mereka hasilkan,” jelas Addy.

Dengan alasan tersebut, lanjut Addy maka akhirnya pengadilan musik menghadirkan Yuki, Bengbeng, Trisno,Sandy, dan Richard di persidangan.

“Tujuannya agar banyak informasi yang tidak banyak orang tahu, seperti cerita yang tidak pernah diungkap terkait perjalanan awal karir Pas Band,” paparnya.

Setelah menyeret Pas Band ke meja sidang, Addy mengatakan sedang menyiapkan calon terdakwa DCDC Pengadilan Musik edisi berikutnya.

Diakuinya banyak daftar musisi yang sudah masuk ke DCDC Pengadilan Musik. Namun pihaknya tetap akan melakukan kurasi lagi sebelum mengambil keputusan.

” Pemilihannya lebih selektif lagi. Tujuannya tentu agar Pengadilan Musik ini bukan sekedar acara hiburan tapi juga bisa ngasih informasi dan juga edukasi serta berbagi inspirasi. Itu sih tujuan kami,” tandas Addy.

Terkait antusiasme pengunjung yang sangat luar biasa terhadap Pas Band, menurut Addy sebetulnya untuk DCDC passport itu kuotanya 40 orang. Tetapi DCDC tidak bisa melarang orang untuk datang.

Ia berterima kasih buat fans DCDC Pengadilan musik yang selalu hadir meramaikan acara serta mau berbagi keceriaan.

“Harapannya kami ingin kapasitas lebih besar, cuma ditengah segala keterbatasan ini, itulah yang bisa kami berikan semampu kami. Mohon maaf buat yang tidak kebagian. Tapi pengadilan musik bisa ditonton via streaming di Youtube DCDC TV,” kata Addy memungkasi.

Drummer Pas Band, Shandy senang bisa hadir pada acara DCDC Pengadilan Musik.Seperti yang dibilang para musisi ini sudah jadi tempat untuk berpromosi yang efektif karena ditonton banyak banget orang.

“Kita bisa lihat viewers dari episode-episode sebelumnya yang jumlahnya edan. Memang acara ini dikemas dengan sangat baik, berbeda bukan hanya sekadar tampil tapi dibedah demikian dalam dengan cara yang menurut saya goblok. Dengan cara yang lepas, tanpa basa basi, unik sih,” ujar Shandy.

Trisno menambahkan, DCDC Pengadilan Musik tempat silaturahmi buat para musisi, tak usah di panggung besar, seperti ini lebih akrab.

“Memang budaya Bandung seperti itu. Harus tetap dipertahankan,” kata Trisno.

Shandi merasa DCDC Pengadilan Musik durasinya kurang lama,karena masih banyak cerita-cerita seru yang belum diungkap,seperti kita pertama kali manggung di luar negeri, atau pertama kali manggung yang bukan audiens kita.

“Saya dan Yuki termasuk orang yang sering explorasi. Kita pernah ikut fear factor di akhir tahun dan kita juga pernah nyoba ekstrim kuliner dan banyak hal-hal seru lainnya,” terangnya.

Personel Pas Band sudah 30 tahun lebih berkarya bersama.Shandi mengakui tidak selamanya mulus , kerikilnya banyak. Resepnya semua merasa seperti saudara.

“Alhamdulillah sampai hari ini Pas Band adalah rumah. Walaupun punya petualangannya,karir, dan keluarga masing-masing, tapi pas pulang ke Pas Band kayak orang yang bawa oleh-oleh. Itu mungkin yang membuat kami saat ini tetap antusias, tetap kumpul . Mudah-mudahan ini terus terjadi bukan hanya hari ini,”tutur sang vokalis Yuki.

Bengbeng bersyukur mereka tak pernah ada konflik yang cukup tajam. Richard keluar secara baik-baik, dan kemudian akhirnya bisa balik juga.

“Kalau boleh kita dengar, band-band lain kalau personelnya keluar malah jadi musuh. Hal itu di kita tidak terjadi. Jadi memang ikatan saudara itu yang menguatkan kita,” ucap Bengbeng.

Terkait rencana dan target ke depan yang akan dijalani Pas Band,Yuki mengaku masih punya impian. Setelah hijrah ia berharap sekali karena banyak lagu-lagu Pas Band yang temanya sebetulnya sangat dalam, walaupun dikemas pada zamannya.

Ia menilai budaya sosial dan perkara-perkara itu sebenarnya sudah ada di agama. Jadi tinggal di finiskan.Harus dibawakan lagi dari awal sampai akhir, harus dibikin bangunan baru yang ada spesial reffrainya.

“Yang isinya, perkara apa yang dikatakan oleh Allah dan rasulnya. Mudah-mudahan kita diberikan sehat oleh Allah SWT, karena saya mau kabur dulu 4 bulan, mau ke papua Nugini tugas agama. Pulang bulan Maret, mudah-mudahan saya punya inspirasi, bisa cari-cari memakai ayat yang mana,” paparnya.

Ia menambahkan tema lagu-lagu Pas Band sebetulnya sarat pencerahan, tapi saat itu mereka belum hijrah, tahu teorinya saja, dan ingin masuk ke area itu.

“Setelah hijrah kami ingin sekali punya kesempatan untuk berbagi lagi dengan fans yang lain,” tandas Yuki.

Menurut Shandi, Insya Allah pas lebaran mendatang personel Pas Band semua akan ibadah umrah bareng. Ia mohon doanya, mudah-mudahan diberi kelancaran.(BUDI)

Leave a Reply